Pengalaman hidup depresi saya saat Covid-19

    
18


 

    Cerita bermula saat saya naik ke kelas 6 SD yang dimana saat semster 2, saya mendengar beberapa rumor bahwa ada penyakit yang berasal dari China (wuhan) kabarnya seluruh inonesia akan di karantina. Dan saya yang mendengar kabar tersebut hanyalah seperti berita hoax atau bohong, dan tidak lama dalam waktu beberapa hari sekolah saya mengungumumkan bahwa pembelajaran akan dilakukan onliine karena untuk mencegah penyebarran virus Covid-19. Saya mendengar hal tersebut sangat terkejut karena akan diakukan pembelajaran online, pada akhirnya saya hanya bisa mengikuti keadaan yang sedang parah karena virus Covid-19. Hari berjalan hari,bulan berjalan berganti bulan, saya menjalani pemebelajaran online kelas 6 SD dengan penuh masalah (maklum karena masih kecil😊😊) dan kesusahan yang lainnya. Akhir nya saya lulus dengan online atau virtual dan untuk acara perpisahan kelas 6 saya dan teman-teman saya di KFC, saya sanagat bahagia bisa libur panjang bahkan di tengah semester 2 sampai selesai lalu lulus. Tapi sayang nya kebahagiaan hanya sebentar saat saya masuk ke SMP Kanisius Santo Yoris semuanya berubah, saat saya masuk ke jenjang SMP saya masih online dan menggunakan google clasroom untuk pembelajaran. Pada awal nya saat saya memasuki jenjang SMP masihlah santai tapi semakin lama mulai menjadi aneh, yang dimana otak saya menjadi seperti kosong atau tumpul karena saya mengerjakan tugas terus mengandalkan google dan aplikasi bantu untuk mengerjakan tugas. Terkadanag saya merasa takut karena saat saya masuk sekolah "Apakah saya bisa mengikuti pembelajaran seperti dulu", Hampir setiaphari kata-kata itu yang menghantui saya dan bisa merubah suasana yang kacau dan takut. Seiring waktu ketakutan saya menjadi bessar  lalu saya sering bergadang karena ketakutan yang mulai menyebar dan perlahan menghancurkan menta saya, bahkan saya berharap untuk bisa karantina sampai lulus SMP tapi semua yang saya harapkan sia-sia. Saat saya sudah kelas 8 semester 1  saya sudah dapat dari pemberithuan sekolah bahwa akan melaksanakan tatap  muka bukan online, seketika saya terkejut dan tambah merasa takut saya mulai sering bergadang dan memperburuk mental saya.

          

          Dan akhirnya saya masuk ke sekolah SMP dan akhir nya ketakutan saya menjadi depresi yang benar benar akan menjadi penderitaan yang sangat tidak terbayangkan, seiring berjalan nya waktu saya selalu bergadang walaupun saya sudah sekolah dan saya terus berfikir negatif thingkin apakah besok akan susah atau menjadi repot. Saya selalu benci jika ada ulangan karena saya menjadi banyak pikiran dan tentu saja menjadi malas belajar, saya merasa bahwa saya sanagt malas dan otak saya menjadi tumpul ketakutan saya untuk tidak naik kelas menghantui saya terus menerus. Secara tiba-tiba pertengahan bulan kelas 8 semster 1 sekolah kembali karantina selama 4 bulan deprsei sudah 100% merusak mental saya, ketakutan saya menjadi sebuah  penyakit yang menurut saya menyakitkan tubuh saya menjadi dingin dan tidak nafsu makan. Selama 4 bulan saya fokus untuk menyembuhkan depresi saya berbagai cara saya gunakan untuk menyembuhkan deprsei saya, saya terus berjuang untuk menyembuhkan depresi saya yang sangat menganggu saya. Lalu setelah 4 bulan akhi depresi saya hilang saya merasa mendingan daripada sebelumnya, dan akhir nya saya dapat lega. Akhir nya saya naik kelas 9 semster 1 walaupun depresi saya terus menghanntui tapi saya dapat mengendalikan semua nya, saya berusaha memperbaiki mental saya dan kuat dalam menghadapi masalah yang akan datang.  Selama kelas 9 saya menjalani sekolah seperti biasa dan tidak ada ketakutan walaupun terkadang muncul tapi saya tetap menghilangkan ketakutan tersebut. Saya mendaptkan pengalaman yang bahagia,teman yang baik,dan romansa (cinta monyet) cinta pertama saya, dan saya , merasa senang dengan kehidupan ini. Lalu saya masuk SMK Nusaputera 1  dan menjalani kehidupan SMK dan kehidupan baru.



























































 


Komentar